Tidur di Lantai Keramik Tanpa Alas, Apa Risikonya?
Tidur di Lantai Tanpa Alas. Saat udara sedang panas, rebahan atau tidur di lantai keramik memang terasa menyegarkan. Tidur di lantai terasa lebih dingin, tidak membutuhkan banyak perlengkapan, dan bisa menjadi pilihan saat kamar sempit atau belum tersedia tempat tidur.
Namun, apakah tidur di lantai bagus untuk kesehatan?
Jawabannya tidak sama untuk semua orang. Sebagian orang merasa nyaman dengan permukaan yang lebih keras, sementara yang lain justru bangun dengan badan pegal, kaku, atau sakit di bahu dan pinggul. Bukti ilmiah tentang manfaat tidur langsung di lantai juga masih terbatas.
Sleep Foundation menjelaskan bahwa sebagian orang mungkin merasa lebih sejuk atau nyaman, tetapi sebagian lainnya mengalami kekakuan dan rasa sakit.
Hal yang perlu diperhatikan terutama adalah tingkat kekerasan permukaan, suhu, kebersihan lantai, kelembapan, serta ada atau tidaknya alas antara tubuh dan lantai.
Apakah Tidur di Lantai Aman?
Tidur di lantai tidak otomatis menyebabkan penyakit. Meski begitu, tidur langsung di lantai keramik tanpa alas dapat memberi tekanan lebih besar pada tubuh daripada permukaan yang memiliki bantalan.
Risikonya juga berbeda antara tidur langsung di keramik dan menaruh kasur di atas lantai. Saat tubuh menyentuh lantai secara langsung, masalah utamanya adalah tekanan pada tubuh, rasa dingin, serta kontak dengan debu atau iritan. Sementara itu, jika kasur diletakkan langsung di lantai, kelembapan dan sirkulasi udara di bagian bawahnya juga perlu diperhatikan.
Karena itu, boleh atau tidaknya tidur di lantai bergantung pada kondisi tubuh dan area tidur.
Rekomendasi untukmu
Apakah Ada Manfaat Tidur di Lantai?
Salah satu alasan orang menyukai tidur di lantai adalah suhu yang terasa lebih sejuk. Permukaan yang lebih keras juga dapat terasa nyaman bagi orang yang sebelumnya tidur di kasur terlalu empuk atau sudah melendut. Namun, merasa nyaman tidak berarti lantai terbukti lebih baik untuk tulang belakang.
Sleep Foundation menyebut belum banyak bukti ilmiah bahwa tidur di lantai lebih sehat daripada tidur di kasur. Efeknya juga dapat berbeda pada setiap orang. Jadi, tidur di lantai tidak bisa dianggap sebagai cara yang lebih sehat untuk semua orang.
Kenapa Badan Sakit Setelah Tidur di Lantai?
Lantai keramik hampir tidak memberikan bantalan yang mengikuti bentuk tubuh. Saat berbaring selama beberapa jam, bahu, pinggul, bokong, dan tumit menjadi titik yang menerima tekanan cukup besar.
Pembahasan ahli yang dimuat Scientific American menjelaskan bahwa tulang belakang mempunyai lekuk alami, sedangkan lantai merupakan permukaan datar dan keras. Kurangnya bantalan juga dapat menimbulkan titik-titik tekanan pada tubuh.
Hal ini menjelaskan kenapa tidur di tempat keras tidak selalu lebih baik untuk sakit punggung.
Sebuah uji klinis terhadap 313 orang dengan nyeri punggung bawah kronis nonspesifik membandingkan tingkat kekerasan kasur. Hasilnya, kasur medium-firm memberikan hasil yang lebih baik daripada kasur firm dalam beberapa ukuran nyeri dan disabilitas.
Penelitian tersebut membandingkan tingkat kekerasan kasur, bukan tidur langsung di lantai. Karena itu, hasilnya tidak boleh diartikan sebagai bukti langsung tentang tidur di lantai.
Jika setiap kali tidur di lantai kamu bangun dengan bahu, pinggul, leher, atau punggung terasa sakit, tubuh mungkin membutuhkan permukaan yang memberi bantalan lebih baik.
Bagaimana dengan Lantai Keramik yang Dingin dan “Masuk Angin”?
Istilah “masuk angin” sering dipakai untuk menggambarkan keluhan seperti meriang, pegal, mual, sakit kepala, atau badan terasa tidak enak. Namun, istilah tersebut bukan diagnosis medis tertentu.
Lantai keramik yang dingin memang dapat membuat tubuh merasa terlalu dingin atau tidur menjadi kurang nyaman. Hal tersebut berbeda dari anggapan bahwa lantai dingin menyebabkan pilek atau infeksi.
CDC menjelaskan tentang pilek bahwa kondisi ini merupakan infeksi saluran napas atas yang disebabkan oleh berbagai virus pernapasan. Jadi, suhu dingin dapat membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Namun, infeksi pernapasan memiliki penyebab lain.
Jika ingin memahami mitos yang lebih spesifik, baca juga artikel Uniland Sleep tentang tidur di lantai dan paru-paru basah.
Debu, Tungau, Jamur, dan Alergi Juga Perlu Diperhatikan
Tidur dekat lantai membuat wajah, kulit, bantal, dan perlengkapan tidur berada lebih dekat dengan debu serta partikel yang mengendap di kamar.
Selain debu, tungau juga perlu diperhatikan. American Lung Association menjelaskan bahwa tungau debu banyak ditemukan pada kasur, perlengkapan tidur, furnitur berbahan kain, dan karpet. Pada orang dengan alergi atau asma yang dipicu tungau, mengurangi debu dan kelembapan menjadi bagian penting untuk membatasi paparan.
Kelembapan juga dapat memengaruhi kondisi area tidur. CDC tentang jamur di dalam rumah menyebut paparan jamur di dalam ruangan berkaitan dengan keluhan saluran napas, batuk, mengi, dan gejala asma pada orang tertentu. CDC juga menyarankan kelembapan rumah dijaga tidak lebih dari 50% untuk membantu mencegah pertumbuhan jamur.
Untuk memahami faktor yang membuat area tidur lebih mudah menjadi tempat tungau berkembang, baca penyebab tungau dan serangga di kasur.
Apakah Tidur di Lantai Bisa Membuat Kulit Gatal?
Bisa terjadi pada sebagian orang, terutama bila kulit bersentuhan dengan debu, kotoran, atau bahan pembersih yang menjadi iritan.
NHS tentang dermatitis kontak menjelaskan bahwa kondisi ini dapat dipicu oleh kontak dengan iritan dan menimbulkan kulit gatal, kering, pecah-pecah, atau teriritasi. Sabun, deterjen, disinfektan, dan debu termasuk contoh iritan yang dapat memicu masalah pada sebagian orang.
Karena itu, hindari langsung berbaring setelah lantai dipel. Tunggu sampai permukaannya benar-benar kering.
Bagaimana Jika Kasur Langsung Diletakkan di Lantai?
Menggunakan matras atau kasur membuat tubuh tidak lagi bersentuhan langsung dengan keramik. Namun, ada faktor lain yang perlu diperiksa, yaitu kondisi bagian bawah kasur.
Kasur yang terus menempel di lantai menyisakan lebih sedikit ruang untuk sirkulasi udara. Pada kamar yang lembap, area di bawah kasur juga perlu lebih sering diperiksa.
Setelah digunakan, kasur lantai sebaiknya diangkat atau dimiringkan agar udara dapat bersirkulasi di bagian bawah. Uniland Sleep memiliki panduan lebih khusus mengenai cara merawat kasur lantai agar tidak lembap dan cara menjaga kasur tetap kering.
Cara Tidur Dekat Lantai dengan Lebih Nyaman
Gunakan matras, kasur tipis, alas tidur, atau kasur lipat agar tubuh tidak langsung menyentuh keramik. Alas yang memiliki bantalan dapat membantu mengurangi tekanan pada bahu, pinggul, dan bagian tubuh lainnya.
Pastikan lantai bersih dan kering sebelum alas digelar. Untuk membantu mengendalikan debu, American Lung Association menyarankan penggunaan penyedot debu dengan filter HEPA serta kain lembap atau mikrofiber. Cara tersebut membantu menangkap debu agar tidak banyak beterbangan.
Angkat dan angin-anginkan matras atau kasur setelah digunakan, terutama jika kamar mudah lembap. Bila suhu terlalu dingin, gunakan pakaian tidur atau selimut yang sesuai.
Jika membutuhkan alas yang mudah disimpan untuk kamar kecil atau penggunaan sementara, baca panduan memilih kasur lipat. Pilihan kasurnya juga dapat dilihat pada koleksi kasur lipat Uniland Sleep.
FAQ Seputar Tidur di Lantai
1. Apakah tidur di lantai bagus untuk kesehatan?
Belum ada bukti ilmiah kuat bahwa tidur langsung di lantai lebih sehat daripada tidur di kasur. Sebagian orang merasa lebih sejuk atau nyaman pada permukaan yang keras, tetapi sebagian lainnya mengalami kekakuan dan rasa sakit pada titik tubuh tertentu. Kenyamanan, posisi tidur, bantalan, kebersihan, dan kondisi tubuh tetap perlu dipertimbangkan.
2. Kenapa badan sakit setelah tidur di lantai?
Permukaan lantai hampir tidak memiliki bantalan sehingga bahu, pinggul, bokong, dan tumit menerima tekanan lebih besar. Lantai yang datar juga tidak mengikuti lekuk alami tulang belakang. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat menyebabkan kekakuan atau rasa sakit setelah bangun.
3. Apakah tidur di lantai bisa menyebabkan masuk angin atau paru-paru basah?
Lantai dingin dapat membuat tubuh merasa kurang nyaman, tetapi pilek disebabkan oleh virus pernapasan. Tidur di lantai juga bukan penyebab langsung pneumonia yang sering disebut “paru-paru basah”. Penjelasan lebih lengkap dapat dibaca pada artikel Uniland Sleep tentang tidur di lantai dan paru-paru basah.
4. Apakah kasur boleh langsung diletakkan di lantai?
Bisa, tetapi kebersihan, kelembapan, dan bagian bawah kasur perlu diperiksa. Jangan membiarkan kasur lembap terus menempel pada lantai. Angkat atau miringkan secara berkala agar udara dapat bersirkulasi di bagian bawah, lalu periksa jika muncul bau apek atau tanda kelembapan. Panduan lengkapnya tersedia pada artikel cara merawat kasur lantai agar tidak lembap.
Tempat Tidur Terbaik
Kesimpulan
Tidur di lantai tidak otomatis sehat atau berbahaya. Bukti ilmiah mengenai manfaatnya masih terbatas, sementara permukaan keras dapat membuat sebagian orang mengalami tekanan pada bahu, pinggul, dan punggung. Suhu, debu, alergen, kebersihan, serta kelembapan area tidur juga perlu diperhatikan.
Jika ingin tidur dekat lantai, gunakan alas yang cukup memberi bantalan, pastikan lantai bersih dan kering, serta angkat kasur atau matras setelah digunakan. Bila keluhan seperti nyeri, alergi, iritasi, atau tidur terganggu terus muncul, pertimbangkan permukaan tidur lain yang lebih nyaman.
