Sering Ngorok Saat Tidur? Ini Penyebab dan Solusinya!
 Kenapa Tidur Ngorok?. Pernah ditegur pasangan, keluarga, atau teman sekamar karena suara ngorok saat tidur? Banyak orang menganggap ngorok sebagai hal biasa. Padahal, pada beberapa kondisi, suara itu bisa menjadi tanda bahwa aliran napas saat tidur sedang tidak lancar.
Ngorok memang tidak selalu berbahaya. Ada orang yang hanya mendengkur saat kelelahan, pilek, atau tidur telentang. Namun, kalau suara ngorok sangat keras, muncul hampir setiap malam, atau disertai napas seperti berhenti, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan.
Agar kamu bisa membedakan mana ngorok ringan dan mana yang perlu diperiksa, mari bahas penyebabnya dari dasar.
Apa Itu Ngorok?
Ngorok adalah suara kasar, serak, atau bergetar yang muncul saat seseorang bernapas ketika tidur. Suara ini muncul karena udara melewati saluran napas yang menyempit, lalu membuat jaringan lunak di sekitar tenggorokan bergetar.
Menurut NHS, ngorok terjadi ketika bagian lidah, mulut, tenggorokan, atau saluran napas hidung bergetar saat seseorang bernapas ketika tidur. Bagian tersebut lebih mudah bergetar karena otot tubuh menjadi lebih rileks dan jalan napas menyempit saat tidur.
Itulah kenapa ngorok bukan hanya soal suara. Di balik suara tersebut, ada proses mekanis yang melibatkan posisi tidur, saluran napas, otot tenggorokan, hidung, dan kebiasaan sebelum tidur.
Rekomendasi untukmu
Kenapa Tidur Ngorok Bisa Terjadi?
Tidur ngorok biasanya terjadi karena saluran pernapasan atas menyempit atau terhambat. Saat tidur, otot lidah, langit-langit mulut, dan tenggorokan menjadi lebih rileks.
Kalau ruang untuk udara lewat menjadi terlalu sempit, aliran napas berubah menjadi lebih kuat dan berputar. Akibatnya, jaringan lunak di tenggorokan bergetar dan muncullah suara ngorok.
Penyempitan ini bisa terjadi karena satu faktor saja, tetapi sering juga muncul dari gabungan beberapa hal. Misalnya, seseorang tidur telentang, sedang hidung tersumbat, lalu minum alkohol sebelum tidur. Kombinasi seperti ini dapat membuat dengkuran terdengar lebih jelas.
Proses Terjadinya Ngorok Saat Tidur
Agar lebih mudah dibayangkan, begini alurnya:
-
Tubuh mulai masuk fase tidur.
-
Otot lidah, langit-langit mulut, dan tenggorokan mengendur.
-
Ruang saluran napas bagian atas menjadi lebih sempit.
-
Udara tetap harus lewat saat kamu menarik napas.
-
Jaringan lunak di tenggorokan ikut bergetar.
-
Getaran tersebut terdengar sebagai suara ngorok.
Pada sebagian orang, lidah atau langit-langit lunak dapat jatuh ke belakang dan menutup sebagian saluran napas. Kondisi ini bisa lebih jelas saat tidur telentang, kelelahan berat, atau memiliki struktur mulut dan tenggorokan yang memang lebih sempit.
Penyebab Tidur Ngorok yang Paling Umum
1. Posisi Tidur Telentang
Tidur telentang membuat gravitasi menarik lidah dan jaringan tenggorokan ke arah belakang. Akibatnya, saluran napas bisa menjadi lebih sempit.
Inilah alasan sebagian orang lebih sering ngorok saat tidur telentang, tetapi lebih tenang saat tidur menyamping. Kalau kamu sering mendapat keluhan ngorok, coba perhatikan apakah suara itu lebih sering muncul saat posisi tubuh menghadap atas.
Kamu juga bisa membaca pembahasan tentang posisi kepala dan leher saat tidur untuk memahami bagaimana bantal, leher, dan permukaan tidur dapat memengaruhi kenyamanan posisi tidur.
2. Berat Badan Berlebih
Kelebihan berat badan dapat menambah jaringan lemak di sekitar leher. Tekanan dari area ini bisa membuat saluran napas lebih sempit, terutama saat tubuh sedang rileks ketika tidur.
Bukan berarti semua orang dengan berat badan berlebih pasti ngorok, dan bukan berarti orang bertubuh ramping tidak bisa ngorok. Namun, berat badan berlebih termasuk faktor yang sering berkaitan dengan dengkuran dan gangguan napas saat tidur.
3. Bentuk Anatomi Mulut, Hidung, dan Tenggorokan
Setiap orang punya struktur tubuh yang berbeda. Amandel besar, lidah besar, kelenjar gondok, rahang bawah yang lebih kecil, langit-langit mulut yang panjang, atau tulang hidung yang sempit dapat membuat aliran udara lebih mudah terganggu.
Faktor anatomi ini sering tidak disadari karena tidak selalu terasa saat sedang bangun. Namun, saat tidur dan otot menjadi lebih kendur, jalur napas bisa lebih mudah menyempit.
4. Hidung Tersumbat
Hidung mampet karena pilek, alergi, sinusitis, atau deviasi septum dapat membuat seseorang lebih sering bernapas lewat mulut saat tidur. Saat napas lewat mulut, jaringan tenggorokan bisa lebih mudah kering dan bergetar.
Kalau kamu hanya ngorok saat sedang flu atau alergi kambuh, penyebabnya mungkin berasal dari saluran hidung yang sedang terganggu. Mengatasi sumbatan hidung bisa membantu membuat napas tidur terasa lebih lega.
5. Alkohol dan Obat Penenang
Alkohol dan obat penenang tertentu dapat membuat otot tenggorokan lebih rileks dari biasanya. Jika otot terlalu kendur, saluran napas lebih mudah menyempit dan suara ngorok bisa makin keras.
Karena itu, kebiasaan minum alkohol menjelang tidur dapat memperbesar peluang mendengkur, terutama pada orang yang sebelumnya sudah punya faktor risiko lain.
6. Kebiasaan Merokok
Merokok dapat mengiritasi saluran napas. Iritasi ini dapat memicu peradangan, pembengkakan, dan produksi lendir yang membuat jalur udara tidak selancar biasanya.
Kalau tenggorokan dan hidung sering terasa kering, gatal, atau tersumbat, kebiasaan merokok bisa menjadi salah satu pemicu yang perlu diperhatikan.
7. Kurang Tidur dan Kelelahan Berat
Saat tubuh terlalu lelah, otot dapat menjadi lebih kendur ketika tidur. Akibatnya, jaringan di tenggorokan lebih mudah bergetar.
Ini sebabnya seseorang yang biasanya tidak ngorok bisa mendengkur setelah begadang, bekerja terlalu lama, atau mengalami kelelahan berat.
8. Faktor Usia
Seiring bertambahnya usia, otot di sekitar tenggorokan cenderung lebih kendur dan elastisitas jaringan berkurang. Perubahan ini dapat membuat saluran napas lebih mudah menyempit saat tidur.
Faktor usia tidak bisa dihindari, tetapi kebiasaan tidur dan gaya hidup tetap bisa dibenahi agar kualitas tidur lebih terjaga.
Apakah Ngorok Berbahaya?
Ngorok sesekali umumnya tidak berbahaya, terutama jika muncul saat kamu sedang pilek, sangat lelah, atau tidur telentang. Masalahnya, ngorok bisa menjadi lebih serius jika terjadi hampir setiap malam, suaranya keras, dan disertai gangguan napas.
Mayo Clinic menjelaskan bahwa tidak semua orang yang ngorok mengalami obstructive sleep apnea, tetapi ngorok yang disertai napas berhenti saat tidur, kantuk berlebihan di siang hari, sulit fokus, sakit kepala pagi hari, tersedak saat tidur, atau suara dengkuran yang sangat mengganggu pasangan perlu diperiksa lebih lanjut melalui evaluasi dokter.
Dengan kata lain, yang perlu dilihat bukan hanya ada atau tidaknya suara ngorok, tetapi pola dan gejala yang menyertainya.
Hubungan Ngorok dengan Obstructive Sleep Apnea
Obstructive Sleep Apnea atau OSA adalah gangguan tidur ketika saluran napas atas tersumbat berulang kali saat tidur.
Menurut NHLBI/NIH, OSA terjadi saat saluran napas atas tersumbat berkali-kali sehingga aliran udara berkurang atau berhenti, dan faktor seperti obesitas atau amandel besar dapat mempersempit jalan napas.
Ngorok keras bisa menjadi salah satu tanda OSA, tetapi tidak semua orang yang ngorok mengalami OSA. Perbedaannya, pada OSA, gangguan napas terjadi berulang dan dapat membuat tubuh kekurangan udara selama tidur.
Orang yang mengalaminya sering tidak sadar, tetapi pasangan atau keluarga dapat melihat pola napas yang berhenti sejenak, lalu muncul suara tersedak atau megap-megap.
Kapan Ngorok Perlu Diwaspadai?
Kamu sebaiknya lebih waspada jika ngorok disertai tanda berikut:
-
suara ngorok sangat keras,
-
napas seperti berhenti beberapa detik saat tidur,
-
tersedak, megap-megap, atau terbangun karena sulit bernapas,
-
sering bangun dengan mulut kering,
-
sakit kepala pada pagi hari,
-
mudah mengantuk di siang hari,
-
sulit fokus saat bekerja atau belajar,
-
badan tetap lelah meski jam tidur terasa cukup,
-
pasangan melihat pola napas tidak teratur.
Kalau keluhan seperti ini sering terjadi, lebih baik periksa ke dokter. Pemeriksaan dapat membantu membedakan ngorok biasa, gangguan hidung, alergi, atau kemungkinan gangguan tidur seperti OSA.
Untuk sisi kualitas tidur harian, kamu juga bisa membaca artikel tentang tidur cukup tetapi tetap lelah, karena rasa lelah setelah bangun bisa berkaitan dengan tidur yang sering terputus atau kurang dalam.
Dampak Ngorok Jika Dibiarkan
Pada ngorok ringan, dampaknya mungkin lebih terasa pada orang sekitar. Pasangan bisa sulit tidur, teman sekamar terganggu, atau kamu jadi merasa tidak enak karena sering ditegur.
Namun, kalau ngorok berkaitan dengan gangguan napas saat tidur, dampaknya bisa lebih luas. Tidur dapat menjadi tidak pulih, badan terasa berat pada pagi hari, fokus menurun, dan rasa kantuk muncul saat beraktivitas. Kantuk saat berkendara juga perlu dihindari karena dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Dampak lain yang sering muncul adalah hubungan dengan pasangan ikut terganggu. Suara dengkuran yang keras bisa membuat pasangan pindah tidur, sering terbangun, atau sama-sama kurang istirahat.
Cara Awal Mengurangi Ngorok di Rumah
Ngorok tidak selalu bisa hilang hanya dengan satu cara, karena penyebabnya bisa berbeda pada tiap orang. Namun, beberapa langkah berikut dapat dicoba sebagai penanganan awal.
1. Coba Tidur Menyamping
Kalau kamu sering ngorok saat telentang, tidur menyamping bisa membantu membuka jalur napas. Gunakan bantal yang membuat kepala dan leher tetap nyaman, tanpa terlalu menekuk ke atas atau jatuh ke bawah.
2. Jaga Berat Badan Sehat
Jika berat badan berlebih, menurunkannya secara bertahap dapat membantu mengurangi tekanan di sekitar leher dan saluran napas. Lakukan dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan tidur yang cukup.
3. Atasi Hidung Tersumbat
Jika ngorok muncul saat hidung mampet, coba perhatikan pemicunya. Alergi, debu kamar, udara kering, atau sinusitis bisa membuat napas hidung terganggu. Membersihkan kamar, mengganti seprai secara rutin, dan berkonsultasi bila alergi sering kambuh dapat membantu.
4. Hindari Alkohol Menjelang Tidur
Batasi alkohol, terutama beberapa jam sebelum tidur. Otot tenggorokan yang terlalu rileks dapat membuat saluran napas lebih mudah menyempit.
5. Berhenti Merokok
Mengurangi lalu berhenti merokok dapat membantu menurunkan iritasi di saluran napas. Efeknya tidak hanya untuk ngorok, tetapi juga untuk kesehatan pernapasan secara umum.
6. Tidur Cukup dan Jaga Jadwal Tidur
Begadang dan kelelahan berat dapat membuat otot tenggorokan lebih kendur saat tidur. Usahakan tidur dan bangun pada jam yang cukup teratur agar tubuh punya ritme istirahat yang lebih baik.
7. Perhatikan Permukaan Tidur
Posisi tidur sering lebih mudah dijaga kalau tubuh mendapat dukungan yang nyaman. Kasur yang terlalu ambles dapat membuat tubuh sulit mempertahankan posisi, sedangkan kasur yang terlalu keras bisa membuat bahu atau pinggang tidak nyaman.
Kalau kamu ingin memahami bagaimana struktur kasur bekerja untuk mengurangi gangguan gerakan dan menjaga kenyamanan berbagai posisi tidur, baca juga panduan tentang kasur yang stabil untuk berbagai posisi tidur.
Perlu diingat, kasur bukan terapi medis untuk ngorok. Namun, permukaan tidur yang nyaman dapat membantu kamu lebih mudah menjaga posisi tidur dan membuat istirahat terasa lebih baik.
Kesalahan Umum Saat Menghadapi Ngorok
Ada beberapa kesalahan yang sering membuat ngorok tidak tertangani dengan baik.
Pertama, menganggap semua ngorok itu biasa. Padahal, ngorok keras yang disertai napas berhenti atau rasa kantuk berat perlu diperiksa.
Kedua, langsung membeli alat tanpa tahu penyebabnya. Alat bantu tertentu mungkin berguna pada beberapa orang, tetapi penyebab ngorok tetap perlu dipahami lebih dulu.
Ketiga, hanya fokus pada orang yang terganggu suara ngorok. Orang yang mendengkur juga perlu diperhatikan, karena bisa saja tidurnya ikut terganggu tanpa ia sadari.
Keempat, menunda pemeriksaan saat gejala sudah jelas. Kalau pasangan melihat napas berhenti berulang, atau kamu sering mengantuk berat di siang hari, konsultasi medis lebih aman daripada menebak sendiri.
FAQ Seputar Tidur Ngorok
1. Kenapa orang bisa ngorok saat tidur?
Orang bisa ngorok karena saluran napas atas menyempit saat tidur. Udara yang lewat membuat jaringan lunak di tenggorokan bergetar, lalu muncul suara dengkuran.
2. Apakah tidur telentang bisa membuat ngorok?
Iya, tidur telentang dapat membuat lidah dan jaringan tenggorokan terdorong ke belakang karena gravitasi. Akibatnya, jalur napas menjadi lebih sempit.
3. Apakah semua orang yang ngorok mengalami sleep apnea?
Tidak. Banyak orang ngorok tanpa mengalami sleep apnea. Namun, ngorok keras yang disertai napas berhenti, tersedak, atau kantuk berlebihan perlu diperiksa.
4. Apakah hidung tersumbat bisa menyebabkan ngorok?
Bisa. Hidung tersumbat membuat napas lewat hidung tidak lancar, sehingga seseorang lebih sering bernapas lewat mulut saat tidur. Kondisi ini dapat membuat jaringan tenggorokan lebih mudah bergetar.
5. Bagaimana cara mengurangi ngorok secara alami?
Beberapa langkah awal yang bisa dicoba adalah tidur menyamping, menjaga berat badan sehat, mengatasi hidung tersumbat, menghindari alkohol sebelum tidur, berhenti merokok, dan tidur cukup.
6. Kapan harus ke dokter karena ngorok?
Periksa ke dokter jika ngorok sangat keras, disertai napas berhenti, tersedak saat tidur, sakit kepala pagi hari, atau sering mengantuk di siang hari. Gejala tersebut bisa berkaitan dengan gangguan tidur yang perlu dinilai tenaga medis.
7. Apakah kasur bisa menyembuhkan ngorok?
Tidak. Kasur tidak menyembuhkan ngorok dan bukan pengganti pemeriksaan medis. Namun, kasur yang nyaman dapat membantu tubuh menjaga posisi tidur dengan lebih baik, sehingga istirahat terasa lebih enak.
Tempat Tidur Terbaik
Kesimpulan
Ngorok adalah cara tubuh menunjukkan bahwa aliran napas saat tidur tidak sepenuhnya lancar. Penyebabnya bisa sederhana, seperti tidur telentang atau hidung tersumbat, tetapi bisa juga berkaitan dengan faktor lain seperti berat badan, kebiasaan merokok, alkohol, kelelahan, usia, atau struktur saluran napas.
Ngorok tidak selalu berbahaya, tetapi jangan otomatis dianggap sepele. Jika dengkuran sangat keras, napas tampak berhenti, muncul suara tersedak, atau tubuh sering mengantuk di siang hari, pemeriksaan ke dokter menjadi langkah yang bijak.
Untuk upaya harian, kamu bisa mulai dari hal sederhana: tidur menyamping, menjaga berat badan sehat, membuat hidung lebih lega, menghindari alkohol sebelum tidur, berhenti merokok, dan menjaga jadwal tidur.Â
Selain itu, permukaan tidur yang nyaman dapat membantu tubuh lebih mudah beristirahat dalam posisi yang enak. Sebagai bagian dari usaha menciptakan tidur yang lebih nyaman, kamu bisa mengenal pilihan kasur Uniland Sleep dan memilih tipe yang sesuai dengan kebutuhan tubuhmu.
Â
