Kenapa Tidur Ngorok? Penyebab dan Tanda Waspada
Kenapa Tidur Ngorok. Pernah ditegur pasangan atau keluarga karena suara ngorok saat tidur? Mendengkur memang cukup umum dan bisa muncul sesekali, misalnya saat sedang pilek, sangat lelah, atau tidur telentang. Namun, ngorok perlu mendapat perhatian lebih jika sangat keras, terjadi hampir setiap malam, atau disertai henti napas sejenak.
Secara sederhana, ngorok muncul ketika aliran udara melewati saluran napas yang menyempit lalu membuat jaringan di sekitar tenggorokan bergetar. Penyebabnya bisa berbeda pada tiap orang, mulai dari posisi tidur hingga gangguan pada hidung dan saluran napas.
Apa Itu Ngorok dan Kenapa Bisa Terjadi?
Ngorok atau mendengkur adalah suara yang muncul ketika jaringan di saluran napas bagian atas bergetar saat kamu bernapas dalam tidur. Saat kamu mulai tertidur, otot di sekitar lidah, langit-langit mulut, dan tenggorokan menjadi lebih rileks.
Jika ruang saluran napas menyempit, aliran udara menjadi lebih kuat dan jaringan lunak ikut bergetar. Getaran inilah yang menghasilkan suara dengkuran.
Karena itu, alasan seseorang ngorok saat tidur tidak selalu sama. Posisi tubuh, kondisi hidung, bentuk anatomi mulut dan tenggorokan, berat badan, kebiasaan sebelum tidur, hingga gangguan tidur tertentu dapat ikut berperan.
Rekomendasi untukmu
Apa Penyebab Ngorok Saat Tidur?
1. Posisi Tidur Telentang
Sebagian orang lebih mudah ngorok ketika tidur telentang. Dalam posisi ini, gravitasi dapat membuat lidah dan jaringan di sekitar tenggorokan bergerak ke arah belakang sehingga saluran napas menjadi lebih sempit.
Jika dengkuran muncul terutama saat telentang, mencoba tidur menyamping dapat membantu pada sebagian orang. Namun, jika ngorok tetap keras dalam berbagai posisi, penyebab lain juga perlu diperhatikan.
2. Hidung Tersumbat atau Saluran Napas Terganggu
Pilek, alergi, sinusitis, polip hidung, atau deviasi septum dapat menghambat aliran udara melalui hidung. Saat hidung tersumbat dan sulit dipakai bernapas, seseorang dapat lebih sering bernapas lewat mulut ketika tidur sehingga dengkuran lebih mudah muncul.
Jika kamu tiba-tiba mulai ngorok ketika sedang flu atau alergi kambuh, sumbatan hidung mungkin menjadi salah satu pemicunya.
3. Bentuk Anatomi dan Berat Badan
Ukuran lidah, amandel yang besar, bentuk rahang, langit-langit mulut, serta struktur hidung dapat memengaruhi luas saluran napas.
Berat badan berlebih juga dapat meningkatkan jumlah jaringan di sekitar leher pada sebagian orang. Saat tubuh rileks ketika tidur, ruang saluran napas bisa menjadi lebih sempit. Meski begitu, orang dengan berat badan normal pun tetap bisa mendengkur.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko obstructive sleep apnea antara lain amandel atau lidah yang besar, rahang yang kecil, hambatan pada hidung, gangguan sinus atau alergi, konsumsi alkohol, obat tidur, dan kebiasaan merokok.
4. Alkohol, Obat Tertentu, dan Merokok
Alkohol menjelang tidur dapat membuat otot tenggorokan lebih rileks. Obat penenang atau obat tidur tertentu juga dapat memengaruhi tonus otot dan pernapasan selama tidur.
Merokok dapat mengiritasi saluran napas dan berkaitan dengan gangguan pada jaringan di sekitarnya. Faktor-faktor ini dapat membuat dengkuran lebih mudah muncul pada sebagian orang.
5. Kurang Tidur dan Faktor Usia
Kurang tidur atau kelelahan berat dapat membuat otot lebih rileks ketika akhirnya tertidur. Seiring bertambahnya usia, perubahan pada otot dan jaringan di sekitar tenggorokan juga dapat membuat saluran napas lebih mudah menyempit.
Ngorok Sesekali dan Sering Ngorok, Apa Bedanya?
Ngorok sesekali, misalnya saat pilek atau setelah sangat lelah, belum tentu menunjukkan masalah kesehatan serius. Hal yang perlu diperhatikan adalah perubahan pola dan gejala lain yang muncul bersama dengkuran.
Kamu sebaiknya lebih waspada jika:
- ngorok sangat keras dan terjadi hampir setiap malam;
- pasangan melihat kamu berhenti bernapas selama beberapa detik;
- muncul suara tersedak atau terengah-engah saat tidur;
- sering terbangun dengan mulut kering;
- sakit kepala pada pagi hari;
- tetap merasa lelah setelah tidur cukup;
- sangat mengantuk pada siang hari;
- sulit berkonsentrasi atau mudah lupa.
Tanda-tanda tersebut dapat muncul ketika kualitas tidur terganggu karena pernapasan yang berulang kali terhambat. Akibatnya, seseorang bisa tetap merasa lelah atau mengantuk pada siang hari meski durasi tidurnya terasa cukup.
Apa Hubungan Ngorok dengan Sleep Apnea?
Tidak semua orang yang ngorok mengalami sleep apnea. Namun, dengkuran keras dapat menjadi salah satu gejala obstructive sleep apnea atau OSA.
Menurut Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), OSA terjadi ketika saluran napas bagian atas menyempit atau tersumbat selama tidur. Jaringan lunak di sekitar tenggorokan, termasuk lidah, dapat menghambat aliran udara sehingga pernapasan berhenti sementara meskipun tubuh tetap berusaha bernapas.
Orang yang mengalaminya tidak selalu mengetahui bahwa napasnya sempat berhenti. Pasangan atau anggota keluarga justru sering menjadi orang pertama yang melihat perubahan pola napas tersebut.
Jika kamu sudah tidur cukup tetapi tetap capek, terutama bila disertai ngorok keras atau gangguan napas, jangan hanya melihat jumlah jam tidur. Kualitas tidur dan tidur yang tidak sering terputus juga penting. Kamu dapat membaca pembahasan Uniland Sleep tentang tidur cukup tetapi tetap capek.
Bila dokter mencurigai adanya gangguan tidur, pemeriksaan lebih lanjut dapat disarankan. Dalam artikel RSUI tentang Sleep Study, polisomnografi dijelaskan sebagai pemeriksaan yang dapat memantau pola pernapasan, kadar oksigen, denyut jantung, aktivitas otak, dan fungsi tubuh lain ketika seseorang tidur.
Cara Mengurangi Ngorok yang Bisa Dicoba
Cara mengurangi ngorok perlu disesuaikan dengan pemicunya. Beberapa langkah awal yang dapat dicoba antara lain:
- Coba tidur menyamping. Jika kamu lebih sering ngorok saat telentang, ubah posisi tubuh dan perhatikan apakah dengkuran berkurang.
- Perhatikan hidung tersumbat. Cari tahu apakah pilek, alergi, debu, atau gangguan hidung sering membuat napas tidak lega.
- Hindari alkohol menjelang tidur. Alkohol dapat membuat jaringan tenggorokan lebih rileks.
- Berhenti merokok. Mengurangi iritasi pada saluran napas bermanfaat bagi kesehatan pernapasan secara umum.
- Jaga berat badan tetap sehat. Jika berat badan berlebih, penurunan berat badan secara bertahap dapat menjadi bagian dari penanganan.
- Tidur cukup dan teratur. Begadang dan kelelahan berat dapat memperburuk dengkuran pada sebagian orang.
Untuk kebiasaan malam yang lebih teratur, kamu juga bisa membaca panduan pola tidur yang baik dari Uniland Sleep.
Bagaimana dengan Kasur dan Bantal?
Kasur atau bantal tidak menyembuhkan ngorok dan bukan pengganti pemeriksaan medis. Namun, tempat tidur yang nyaman dapat membantu kamu mempertahankan posisi tidur tanpa terlalu sering berganti posisi karena pegal.
Jika ingin memahami cara kerja pegas individual dan fitur isolasi gerak pada kasur, kamu bisa membaca panduan cara kerja kasur pocket spring. Pilih kasur sesuai kenyamanan tubuh dan kebiasaan tidur, bukan karena klaim dapat mengatasi dengkuran.
FAQ Seputar Tidur Ngorok
1. Kenapa Tiba-Tiba Jadi Ngorok padahal Sebelumnya Tidak?
Perubahan sementara seperti pilek, alergi, kurang tidur, konsumsi alkohol, kenaikan berat badan, atau perubahan posisi tidur dapat menjadi pemicu. Jika ngorok baru muncul lalu menetap, sangat keras, atau disertai gangguan napas, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
2. Apakah Tidur Miring Bisa Mengurangi Ngorok?
Bisa pada sebagian orang, terutama jika dengkuran lebih berat ketika tidur telentang. Namun, posisi tidur bukan satu-satunya faktor penyebab.
3. Apakah Wanita Juga Bisa Ngorok?
Bisa. Mendengkur dapat terjadi pada pria maupun wanita karena mekanismenya berkaitan dengan penyempitan saluran napas ketika tidur.
4. Kapan Ngorok Perlu Diperiksa?
Konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika ngorok sangat keras dan berulang, kamu tampak berhenti bernapas, sering tersedak atau terengah-engah ketika tidur, atau mengalami kantuk berat dan sulit fokus pada siang hari.
Tempat Tidur Terbaik
Kesimpulan
Ngorok saat tidur paling sering berkaitan dengan penyempitan saluran napas yang membuat jaringan di tenggorokan bergetar. Pemicunya dapat berasal dari posisi telentang, hidung tersumbat, anatomi saluran napas, berat badan, alkohol, merokok, kurang tidur, atau faktor usia.
Ngorok tidak selalu berarti sleep apnea. Namun, dengkuran keras yang terjadi berulang dan disertai henti napas, terengah-engah, sakit kepala pada pagi hari, atau kantuk berat pada siang hari sebaiknya tidak diabaikan.
Mulailah dengan memperhatikan pola ngorok dan faktor pemicunya. Perbaiki kebiasaan tidur, coba posisi menyamping bila sesuai, dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika ada tanda gangguan napas. Untuk membantu menciptakan tempat tidur yang nyaman, kamu juga dapat melihat pilihan kasur Uniland Sleep sesuai kebutuhan tidurmu.
Â
- Tag: Kenapa Tidur Ngorok
